Partai Komunis Indonesia (PKI) merupakan partai komunis yang terbesar di seluruh dunia, di luar Tiongkok dan Uni Soviet. Sampai pada tahun 1965 anggotanya berjumlah sekitar 3,5 juta, ditambah 3 juta dari pergerakan pemudanya. PKI juga mengontrol pergerakan serikat buruh yang mempunyai 3,5 juta anggota dan pergerakan petani Barisan Tani Indonesia yang mempunyai 9 juta anggota. Termasuk pergerakan wanita (Gerwani), organisasi penulis dan artis dan pergerakan sarjananya, PKI mempunyai lebih dari 20 juta anggota dan pendukung.
Latar Belakang :
Pada bulan Juli 1959 parlemen dibubarkan dan Sukarno menetapkan konstitusi di bawah dekret presiden - sekali lagi dengan dukungan penuh dari PKI. Ia memperkuat tangan angkatan bersenjata dengan mengangkat para jenderal militer ke posisi-posisi yang penting. Sukarno menjalankan sistem "Demokrasi Terpimpin". PKI menyambut "Demokrasi Terpimpin" Sukarno dengan hangat dan anggapan bahwa dia mempunyai mandat untuk persekutuan Konsepsi yaitu antara Nasionalis, Agama dan Komunis yang dinamakan NASAKOM. Pada era "Demokrasi Terpimpin", kolaborasi antara kepemimpinan PKI dan kaum burjuis nasional dalam menekan pergerakan-pergerakan independen kaum buruh dan petani, gagal memecahkan masalah-masalah politis dan ekonomi yang mendesak. Pendapatan ekspor menurun, foreign reserves menurun, inflasi terus menaik dan korupsi birokrat dan militer menjadi wabah.
Isu-Isu :
Pembentukan Angkata kelima
PKI ingin membentuk angkatan kelima ( buruh dan tani dipersenjatai ) tetapi berdiri sendiri dan terlepas dari ABRI. tentunya hal ini membuat kecurigaan diantara petinggi-petinggi militer di kalangan Angkatan Darat. Pasalnya ada sebuah Angkatan Bersenjata yang berslogan "Untuk Ketentraman Umum Bantu Polisi" tidak mau bekerjasama dengan ABRI
Sakitnya Bung Karno
Pada 1964, beredar isu parah tentang sakitnya Bung Karno. Karena hal tersebut yang menyebabkan isu perebutan kekuasaan setelah Soekarno meninggal dunia. Namun menurut Subandrio, DN AIDIT tahu persis Soekarno hanya sakit ringan saja.
Isu Dewan Jendral
Pada sekitar bulan September 1965, muncul Isu Dewan Jendral, yaitu isu tentang ketidakpuasan pada petinggi Angkatan Darat atas kepemimpinan Soekarno sehingga ingin mengkudeta kepemimpinan Soekarno. Menderngar isu tersebut Soekarno langsung memanggil pasukan Cakrabirawa untuk memanggil petinggi-petinggi angkatan darat tersebut, namun terjadilah pembantaian yang dilakukan oleh PKI.
Isu Keterlibatan Soeharto
Banyak yang mengira G30S PKI didalangi oleh Soeharto. Namun pada saat ini belum ada bukti otentik yang menjelaskan bahwa Soeharto dalang dibalik peristiwa tersebut. Hal ini didasari karena dalam daftar nama tersebut tidak ada nama Soeharta yang pada masa itu menjabat sebagai Pangkostrad Angkatan Darat Deputi 1 Menteri
Korban-korban dari peristiwa G30S PKI :
Keenam pejabat tinggi yang dibunuh tersebut adalah:
- Letjen TNI Ahmad Yani (Menteri/Panglima Angkatan Darat/Kepala Staf Komando Operasi Tertinggi)
- Mayjen TNI Raden Suprapto (Deputi II Menteri/Panglima AD bidang Administrasi)
- Mayjen TNI Mas Tirtodarmo Haryono (Deputi III Menteri/Panglima AD bidang Perencanaan dan Pembinaan)
- Mayjen TNI Siswondo Parman (Asisten I Menteri/Panglima AD bidang Intelijen)
- Brigjen TNI Donald Isaac Panjaitan (Asisten IV Menteri/Panglima AD bidang Logistik)
- Brigjen TNI Sutoyo Siswomiharjo (Inspektur Kehakiman/Oditur Jenderal Angkatan Darat)
Para korban tersebut kemudian dibuang ke suatu lokasi di Pondok Gede, Jakarta yang dikenal sebagai Lubang Buaya. Mayat mereka ditemukan pada 3 Oktober.
Selain itu beberapa orang lainnya juga turut menjadi korban:
- Bripka Karel Satsuit Tubun (Pengawal kediaman resmi Wakil Perdana Menteri II dr.J. Leimena)
- Kolonel Katamso Darmokusumo (Komandan Korem 072/Pamungkas, Yogyakarta)
- Letkol Sugiyono Mangunwiyoto (Kepala Staf Korem 072/Pamungkas, Yogyakarta)
Pada tanggal 16 Oktober 1965, Sukarno melantik Mayjen Suharto menjadi Menteri/Panglima Angkatan Darat di Istana Negara. Berikut kutipan amanat presiden Sukarno kepada Suharto pada saat Suharto disumpah:
| “ | Saya
perintahkan kepada Jenderal Mayor Soeharto, sekarang Angkatan Darat
pimpinannya saya berikan kepadamu, buatlah Angkatan Darat ini satu
Angkatan daripada Republik Indonesia, Angkatan Bersenjata daripada
Republik Indonesia yang sama sekali menjalankan Panca Azimat Revolusi,
yang sama sekali berdiri di atas Trisakti, yang sama sekali berdiri di
atas Nasakom, yang sama sekali berdiri di atas prinsip Berdikari, yang
sama sekali berdiri atas prinsip Manipol-USDEK.
Manipol-USDEK telah ditentukan oleh lembaga kita yang tertinggi
sebagai haluan negara Republik Indonesia. Dan oleh karena Manipol-USDEK
ini adalah haluan daripada negara Republik Indonesia, maka dia harus
dijunjung tinggi, dijalankan, dipupuk oleh semua kita. Oleh Angkatan
Darat, Angkatan Laut, Angkatan Udara, Angkatan Kepolisian Negara. Hanya
jikalau kita berdiri benar-benar di atas Panca Azimat ini, kita
semuanya, maka barulah revousi kita bisa jaya. Soeharto, sebagai panglima Angkatan Darat, dan sebagai Menteri dalam kabinetku, saya perintahkan engkau, kerjakan apa yang kuperintahkan kepadamu dengan sebaik-baiknya. Saya doakan Tuhan selalu beserta kita dan beserta engkau! |
” |
Kesimpulan :
Tragedi G30S PKI adalah tragedi pembunuhan petinggi Angkatan Darat karena berbagai macam Isu yang didalangi PKI. Mengapa demikian ? pada saat terjadi berbagai macam Isu tersebut, PKI sedang ingin membentuk angkatan kelima dan gencar2nya melakukan pemberontakan dan perampasan di berbagai macam daerah, terutama pada saat pemberontakan Madiun yang ingin membentuk Negara Sovyet Indonesia. Sehingga timbulah konflik antara Pemerintah-Militer-PKI yang akhirnya berujung kemenangan pada pihak Pemerintah dan Militer walaupun yang menjadi korban adalah 7 perwira tinggi angkatan darat
Menurut penulis, dalang dari G30S PKI ialah :
Uni Sovyet
Mengapa demikian ? karena semua berawal dari pemberontakan PKI di Madiun yang ingin membentuk Negara Sovyet Indonesia. Namun, pemerintah berhasil merebut kembali kota Madiun yang sebenarnya. Tujuan utama Uni Sovyet adalah menyebarkan paham komunis ke banyak negara seperti halnya Korea yang pecah karena 2 paham yang berbeda. Musso yang terhasut akan omongan Sovyet akan cantiknya surga komunis lalu sengaja melakukan pemberontakan-pemberontakan dengan PKI dan bantuan-bantuan dari organisasi-organisasi pendukung PKI. Mengapa bukan Soekarno ? ataupun Soeharto ? ataupun PKI ? disini PKI hanyalah Rakyat Nusantara yang salah jalur atau sedikit melenceng dari dasar negara karena adanya rayuan-rayuan dari paham komunis tersebut. Soekarno juga tidak dapat disalahkan, karena pada saat itu ia bahkan tidak menyangka bahwa dalam pasukan Cakrabirawa terdapat anggota berpaham komunis dan ia sendiri yang memerintahkan kepada Jendral Soeharto untuk memberantas sisa-sisa oragisasi yang ada. Soeharto pun sama halnya, Namun yang paling mencurigakan adalah ? mengapa dari deretan nama Jendral petinggi Angkatan Darat diatas tidak disebutkan Deputi 1 atau Soeharto. Apa mungkin karena kedekatannya dengan Letkol Untung ? tidak, Soeharto sendiri yang memimpin jalannya pemberantasan PKI tersebut dan sampai sekarang tidak ada bukti yang jelas bahwa Soeharto adalah dalangnya.
Apa pendapat kalian ? sampaikan dikolom komentar
